Tampilkan postingan dengan label Laporan Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laporan Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 April 2008

Disesalkan Sejumlah Perusahan Tidak Bayar Retribusi



Sejumlah perusahaan yang bergerak di Paniai kini terkesan belum membayar retribusi (PAD). Maju mundurnya pembangunan akan ditentukan juga oleh pendapatan asli daerah (PAD). Sebab partisipasi semua pengusaha dalam membayar retribusi adalah suatu kewajiban untuk membangunan daerah yang terisolir dalam pembangunan seperti Paniai. Penyelesalan terhadap beberapa perusahaan yang bergerak di Paniai dalam rapat satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang berlangsung di Paniai pekan lalu.

Dalam acara yang di prakarsai oleh Dinas Pendapatan Daerah tersebut dipimpinan oleh kepala Dinas Pendapatan Daerah Drs. Irenius Adii, MT terungkap kontribusi para pengusaha terutama oleh perusahaan yang besar sanagat membantu pemerintah dan masyarakat untuk membangun daerah. Sekretaris daerah Drs. Gatot Sukotjo membeberkan sejumlah persoalan pembangunan yang kini dirasakan oleh wilayah Paniai.

“ maju mundurnya suatu sangat ditentukan oleh PAD. Sebab itu semua satuan kerja yang bisa mendatangkan PAD harus rapatkan barisan demi membangunan daerah ini,”papar Sekda dalam arahannya.

Perusahaan –perusahaan yang hingga kini belum memberikan kontribusi kepada pemerintah diantaranya, perusahaan Telkom, PT PLN ranting Nabire di Enarotali, PT. Telkom Enarotali, sedang perusahaan yang bergerak dibidang pembangunan infrastruktur diantaranya, PT. Modern, PT. Agung Mulia, PT. Paradise, PT. Tinggal Landas. (aten badii)

Sampah Berserakan, Kali Digoel Terancam Limbah

Akibat pembuangan sampah yang tidak teratur sejumlah kali yang sebelumnya tempat mencari nafkah kini terancam bagi hidup warga Boven Digoel. Terutama para pedagang dikomplex pasar dekat pelabuhan membuang sampat tidak pada tempatnya akibat pembuangan sampah tersebut berimbas pada tercemarnya kali baik kali besar sepertinya Kali Digoel dan beberapa kali lainnya. Berikut laporan repoter Boven Digoel.

Warga Boven yang berdiam sekitar kali tersebutmerasa terancam.pasalnya pembuangan sampah tidak teratur mengisahkan sederatan keluhan. Dimana kali-kali tersebut warga setempat bisa mencari makan.

Seorang warga mama Yolanda yang sehari-hari mencari ikan di kali Digoel mengatakan, sejak para pedangan membuang sampah dikali ini kami tidak bisa mendapatkan ikan lagi. Bukan hanya kali besar akan tetapi juga beberapa kali kecil yang lain. Terutama oleh para pedagangan yang berdagang di pasar kebetulan dekat dengan kali maka semua sampah itu dibuang saja di kali. Mereka tidak tahu kalau kali ini warga selalu mencari makan disitu.

Mama Yolanda menceritakan, untuk memenuhi kebutuhan setiap hari, warga disini tergantung alam. Maksudnya selalu mencari ikan di kali. Hasilnya selalu dijual untuk membiayai kebutuhan termasuk membiayai anak-anak sekolah. Keterlaluan pembuangan sampah merupakan ancaman bagi warga yang hanya menghidupi dengan hasil alam. Bukan saja kepada mereka akan tetapi jika persoalan sampah tidak diatasi sedini mungkin akan berimbas pada meluapnya kali Digoel yang arusnya mengenaskan itu

Menurut Yos yang selalu togok sagu di pinggir kali, menguraikan, tumpukan sampah tersebut jika tidak diperhatikan pastikan akan meluas. Mencermati kondisi demikian sebaiknya para pedagang kios harus membuang sampah pada tempatnya.

“ mereka harus tahu tempat buang sampah. Kali inikan warga selalu mencari makan disini, kok kelihatan dong trapu mata saja, buang sembarang sampai warga ini terancam mencari nafka,” sesalnya.

Karenanya Yos mengharapkan sebaiknya pemerintah harus menyiapkan tempat-tempat sampah. Jika pemerintah tidak jelih melihat persoalan ini hidup masyarakat akan terancam karena tempat mencari nafkah telah hilang srna bersama kotoran yang diproduksi oleh pedagang dipasar tersebut. (apin/Lukas/boven)

Songsong HUT Kartini

Wanita Boven Digoel Gelar Berbagai Kegiatan.

Memperingati hari ulang tahun R.A. Kartini yang ke -129 tahun 2008 warga kabupaten Boven Digoel mengelar sejumlah perlombaan dan kegiatan yang melibatkan berbagai kalangan. Pelaksanaan HUT tahun 2008 ini dipercayakan kepada Kantor Pemberdayaan Perempuan bekerjasama dengan Dharmawanita kabupaten Boven Digoel. Berbagai kegiatan dilaksanakan diantaranya, paket kesehatan, lomba kebersihan, angjangsana, dan lomba kebersihan bagi anak-anak sekolah tingkat Taman kanak-kanak.

Ketua Panitia HUT Kartini ke-129 Kabupaten Boven Digoel Fabiana Wangbon mengatakan, pelaksanaan peringatan HUT R.A. Kartini untuk kabupaten Boven selalu bergiliran antara beberapa kelompok perempuan yang ada disana, mislanya Persit, PW dan tahun ini dipercayakan kepada Dharma wanita dan Pemberdayaan Perempuan. Dari semua kegiatan yang dilaksanakan yang sangat menarik adalah lomba kebersihan anak-anak TK. Animo anak-anak TK cukup tinggi sekitar 30 peserta. Lomba cuci tangan dan sikat gigi dipusatkan dilapangan Trikora Tanah Merah.

Kepala Kantor Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Boven Digoel Martina Wombon membenarkan jika kegiatan ini sedang berlangsung menyongsong peringatan R.A. Kartini yang ke 129 tahun 2008. dirinya mengakui, kegiatan tersebut merupakan kegiatan pemerintah dan sudah menjadi agenda pemerintah yang harus dilaksanakan setiap tahun. (domin)

Sagu Tercemar Warga Atuka Terancam

Pada umumnya kampung-kampung di daerah Mimika berada di pesisir pantai. Airnya keruh dan dangkal, lautnya selalu berombak sehingga selalu merubah garis pandai. Pantainya panjang luas dan indah dihiasi dengan pohon-pohon cemara dan kelapa. Jika ingin berjalan le-bih ke dalam, kita akan menemukan daerah berlumpur dan rawa. Di sana banyak pohon bakau. Sedangkan se-makin kita ke udik, tanahnya basah dan banyak ditum-buhi pohon-pohon sagu. Daerah sini merupakan dusun sebagai sumber hidup orang Mimika. Daerah sekitar udik banyak pohon-pohon yang biasa diproduksi seperti kayu besi, dll.

Hubungan satu tempat ke tempat lain melalui laut atau kali. Keadaan laut atau kali perlu perhitungan khu-sus. Jika melalui kali harus memperhitungkan air pasang dan surut. Air surut mengakibatkan kali kering sehingga perahu tak bisa lewat. Orang juga harus memperhitung-kan arus ke mana agar perjalanan dengan perahu tidak membuat banyak waktu dan tenaga. Mereka mempunyai keahlian untuk memperhitungkan kapan air pasang dan kapan air surut serta ke mana arus itu pergi.

Hubungan melalui laut juga perlu perhitungan. Bila laut berombak atau bergelombang besar sangat berbaha-ya untuk dilalui. Perjalanan laut biasanya ditempuh saat laut tenang. Kekhususan orang Mimika biasanya mem-pergunakan layar pada perahu, dengan bantuan angin perahu itu melaju. Kekhususan ini hanya ada pada orang-orang di Mimika barat.

Pada umumnya hutan di daerah Mimika berawa dan berlumpur. Pada waktu air pasang semua tempat terge-nang air sehingga mempermudah orang masuk dengan perahu. Alam sangat kaya. Dalam lumpur terdapat ba-nyak siput dan kepiting. Di dataran kering terdapat bi-natang-binatang seperti babi, kasuari, dll. Dalam kali dan laut terdapat bermacam ikan. Tak lupa pula bermacam burung menghiasi udara.

Menyatu Dengan Alam/ Sebuah Kata Yang Bisa Menggambarkan Suku Mimika Atau Kamoro. Dalam Setiap Aktivitas Hidup Keseharian Mereka. Sekeluarga Hidup Berpindah Di Tepi Sungai-Sungai Besar/ Menyusuri Sungai Dengan Perahu Khas 'Kole-Kole' Menangkap Ikan Dengan Jala Dan Pancing/ Mencari Karaka Atau Kepiting Di Hutan Bakau. Menerabas Hutan Sagu Untuk Diolah Menjadi Makanan Pokok/ Menebang Kayu Untuk Dijadikan Perahu Dan Kayu Bakar

Itulah Aktivitas Yang Tidak Dapat Dipisahkan Dari Kehidupan Orang Mimika Yang Seolah Tak Pernah Gentar Dengan Ganasnya Sungai-Sungai Besar Di Pesisir Pantai Barat Papua. Hanya Dengan Bermodalkan Sampan Kecil Bernama Kole-Kole Mendayung Menyusuri Sungai Berliku/ Mencari Hidup Dan Mendidik Anak Untuk Dapat Bertahan Hidup Dari Kerasnya Alam. Peralatan Lain Yang Ikut Dibawa Adalah Parang, Kampak Jala, Pancing atau dalam bahasa Kamoro disebut Wapuru Atau Alat Pangkur Sagu Dan Kawata Sejenis Tombak Untuk Berburu Atau Berjaga Dari serbuan Binatang Buas, Panci Dan Terpal Plastik Seadanya Untuk Berteduh

Tak Pernah Mengeluh Walau Dengan Berbagai Keterbatasan Pada Mereka Tapi Tetap Bersemangat Menjalani Hidup. Bertelanjang Badan Bahkan Tak Jarang Tanpa Busana Sama Sekali Bermain Di Pasir Rawa Atau Sungai-Sungai Dan Setelah Itu Membuat Api Membakar Sagu Serta Hasil Buruan Hari Ini/ Entah Karaka/ Kerang/ Ataupun Ikan

Sebuah Gaya Hidup Yang Sangat Sederhana/ Di Alam Yang Tidak Sederhana

Dalam Keluarga Orang Mimika Atau Suku Kamoro dan suku Sempan Posisi kaum hawa Sangat Berperan Penting dan memiliki fungsi ganda. Selain Bertugas Mengurus Anak Dan Dapur Pekerjaan Mencari Makanan Juga Dilakukan para kaum perempuan. Misalnya Menangkap Ikan Atau Mencari Karaka Ataupun Beternak

Kaum Bapak Atau Laki-Laki Bertugas Untuk Berburu Binatang Misalnya Babi, Serta Pekerjaan Berat Seperti Menebang Pohon Sagu Lalu Mengolah Menjadi Sagu, Mengukir, Bertugas Menjaga Keamanan Keluarga Atau Dulunya Bertugas Untuk Berperang.

Orang Mimika senang akan seni musik. Mereka mempunyai banyak lagu-lagu dan bermacam-macam tarian. Mereka bergembira pada waktu pesta sambil menari dan menyanyi. Lagu-lagu selalu disesuaikan dengan pesta yang diadakan. Mereka mendirikan sebuah pondok sebagai tempat orang-orang dewasa pukul tifa sambil bernyanyi.

Selain seni musik, seni ukir juga mendapat tempat khusus dalam masyarakat. Hasilnya antara lain mbitoro (patung yang besar, setinggi rumah), tongkat berukir, patung-patung kecil. Ukiran ini punya arti tersendiri. Tidak sembarang orang boleh mengukir kecuali orang-orang tertentu yang mendapat hak warisan secara turun-temurun. Karena itu, seni ukir tidak begitu berkembang di Mimika..

Semua keindahan alam tanah Kamoro kini hancur sudah itulah yang diucapkan Pilipus Nimaipo seorang kepala suku 17 Maret 2007 lalu. Betapa tidak ketika kepada wartawan Pilipus mengatakan’ dulu kami memiliki beribu-ribu hektar tanaman sagu namun kini berkurang dan dari pohon sagu yang ada pun telah hilang kelezatannya. terdapat sagu yang tidak serasa sagu-sagu dulu. Kini rasanya berbeda dan dulu kami biasa menyimpan sagu dalam jangka waktu yang lama tapi kini belum satu bulan sagu sudah busuk dan rusak. Keawetan sagu sudah tidak ada lagi.’ tegasnya.

Daerah tersebut adalah desa Tipuka Distrik Mimika Timur. Air kimia yang menyebabkan kerusakan makanan pokok warga Tipuka dan suku Papua pantai – Sagu – berada di mil 15 -16.

Konon daerah ini perna mengalami banjir besar karena aliran-aliran sungai mengalami penyumbatan.’ Dulu tidak pernah banjir tapi tahun 2002 dikampung kami mengalami banjir besar karena terjadi penyumbatan aliran akibat limbah’ ungkapnya.

Banjir besar yang pernah mengancam kehidupan warga tersebut akhirnya menarik perhatian dari PT. Freeport Indonesia terhadap kelangsungan hidup warga Tipuka. PT. Freeport dalam merealisasikan perhatian tersebut telah berjanji akan memberikan bahan makanan kepada warga Tipuka. Pada awalnya perjanjian tersebut berjalan baik namun kini sudah jarang ada pemberian bantuan makanan tersebut’ tegasnya. Lebih jauh ia mengatakan’ perusahaan sudah tipu diatas tipu, areal kami sudah rusak, sungai kami sudah rusak, sedikit lagi kampong kami akan ada limbah, ungkapnya sedih.

Tentang hal ini, perusahaan tidakmau tahu dan CLO PT. Freeport sudah pernah melakukan pengontrolan tapi tidak ada tindakan konkret untuk menyelesaikan masalah ini. Lebih jauh kepada tabloid ini, Nimaipo mengatakan’ makanan pokok kami sudah rusak, hidup kami hancur, air kimia sudah menyerang kita punya kampung. Jika kini terjadi hujan secara terus menerus sepanjang satu atau dua malam.maka, kampung kami akan banjir dengan air limbah, dulu tidak seperti ini ’ ungkapnya.

Lebih dari itu, binatang seperti rusa, kasuari, babi semua sudah lari dari sekitar kampong kami. Ikan yang dulunya menjadi lauk kami seperti ikan duri, ikan tawar dan lainnya, kini setelah makan kami rasakan gatal-gatal’ ungkapnya kesal.

Karena perjanjian yang telah pernah diberikan oleh PT. Freeport kepada masyarakat tersebut tidak lagi disikapi serius dan makanan pokok sagu sudah terkontaminasi dengan air kimia yang membuat sagu cepat rusak dan tidak awet lagi maka, untuk menyambung hidup, warga masyarakat Tipuka dengan jumlah 72 kepala keluraga ini terpaksa harus mengeluarkan ongkos yang lebih mahal dari sebelumnya. ‘kami harus makan untuk kelangsungan hidup kami selanjutnya untuk itu walauipun kami harus keluarkan 20 liter bensin sekali tokok sagu. Karena Kami harus pergi menokok sagu ke dusun yang lebih jauh yang belum tercampur limbah’ tegasnya.

Jika dihitung-hitung 1 liter bensin Rp 5000 rupiah dikalikan 20 liter yang dibutuhan, maka Rp. 100.000 sekali jalan tokok sagu.dan jika satu minggu 2 kali pergi maka biaya yang harus ditanggung untuk ungkos bensin selama satu bulan sebesar Rp. 800.ribu hanya untuk biaya transportasi. Bagi orang tertentu jumlah tersebut tidak seberapa, namun bagi warga atuka yang kebayakan adalah petani tradisional dan tidak memiliki pendapatan sungguh sangat berat bukan kepalang. Sudah begitu, sagu sebagai makanan pokok sudah tercemar dan tidak lagi awet .

Namun demikian, kepala suku tersebut telah mengakui bahwa PT. Freeport Indonesia telah membantu masyarakat dengan pemberian makanan kepada warga tersebut. Selain itu, sejumlah fasilitas telah dibangun Perusahaan. ‘ Freeport telah bangun fasilitas yang ada disini disbanding pihak pemerintah Daerah yang walaupun telah dibangun kantor kecamatan dengan perumahan karyawan namun hingga kini kami tidak tahu rimbanya. ‘ kantor camat itu satu bulan baru buka dan setelah satu-dua hari camatnya tidak berada di kampong’ tegas salah seorang warga setempat. Dari pantauan suara perempuan papua terlihat gedung kantor distrik yang berdiri gagah ditengah kampong. Namun rumput dihalaman gedung tersebut cukup lebat dan tingginya hamper menutup kantor megah bercat putih tersebut. Terlihat kaca jendela telah hancur lebur. Gedung tersebut sangat tidak terawatt dan itu menggambarkan bobroknya system pemerintahan dan pelayanan public yang macet. ‘ kami biasa urus surat ataupun KTP ( kartu tanda penduduk, red) di Mapuru jaya, padahal kami bukan warga disana. Hal itu kami lakukan karena Kepala distrik hanya berkantor satu bulan sekali’ tegas Stevanus Nimaipo seorang tokoh pemuda.

Selain itu kepada mingguan ini Nimaipo mengakui bahwa dana satu peresn itu hanya dinikmati oleh menejemen LPMAK ‘ kami peroleh dana satu persen perorang lima puluh ribu sampai seratus ribu untuk satu tahun dan jumlahnya ini tergantung banyak sedikitnya jumlah keluarga di satu desa untuk itu LPMAK yang makan uang itu’ ungkapnya.

Dalam kondisi dan situasi kampong seperti itu apakah penyaluran dana seratus juta kekampung-kmapng akan berjalan lancar dan.akan dirasakan masyarakat sasaran?

Yang jelas masyarakat membutuhkan perhatian serius dari semua komponen baik pemerintahan maupun swasta karena mereka sangat terancam, makanan pokok mereka tercemar, kampong mereka sudah dikepung limbah dan pemerintah tidak melakukan pelayanan public kemasyarakatan dan PT. Freeport tidak lagi memberikan bantuan makanan kepada warga ini sesuai perjanjian yang pernah disepakati bersama sewaktu mengalami banjir limba karena sungai aliran tidak lancer alias mengalami penyumbatan. (jhon pakage)

Kamis, 17 April 2008

Alam Emas Mengisahkan Perselisihan


Nabire salah satu Kabupaten dari 23 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Papua Indonesia. Paniai (lama) Nabire mengalamai perubahan beberapa kali julukan nama. Sebelumnya Nabire dikenal dengan kota singkong, setelah beberapa tahun kemudian nama Nabire pun rubah namanya menjadi kota gaharu. Selain itu julukan nama yang sangat terkenal dan menghebohkan kota Nabire adalah setelah pada 1996 menemukan kandungan emas diwilayah Topo (Uwapa). Selang berapa tahun kemudian pada tahun 2004 Nabire kembali dikenal dengan kota gempa. Julukan kota gempa ini yang menyedihkan bagi warga kabupaten Nabire bahkan semua orang menaruh perhatiannya.


J

ulukan sebagai kota singkong, kota gaharu dan kota emas merupakan wujud pengakuan warga luar Nabire bahwa Nabire memiliki potensi alam yang sangat berlimpah ruah. Begitulah perubahan julukan nama kepada kota Nabire.

Namun yang sangat menarik perhatian adalah julukan kota emas. Kandungan emas itu ternyata menjadi kandungan yang mengancam eksistensitas masyarakat pemilik hak ulayat. Dimana dengan kehadiran emas mengisahkan berbagai persoalan diwilayah itu.



Lokasi pendulangan emas di wilayah Degewo Kabupaten Paniai. (foto ist)


Salah satu pemilik ulayat wilayah Degewo Petrus Dikipa ceritakan berbagai persoalan yang terjadi akibat pendulangan. awalnya, kandungan tersebut ditemukan oleh sejumlah warga yang hendak mandi tepatnya di kali Degewo. Kali tersebut merupakan kali yang sangat deras arusnya. Setelah beberapa warga menemukan emas di kali tersebut saat mereka mandi menemukan emas didalam air. Emas yang ditemukan itu 200 (duaratus) gram berupa batu. Berita tentang penemuan itupun tersiar. Sejak itu semua orang berdatangan untuk mencari emas disana. ”sekarang ini sekitar 10 ribuh pendulang berada disana mencari emas,”paparnya.

Petrus pemiliki dusun itu menguraikan dampak pendulangan yang terjadi sana. Habitat alam musnah. Pepohonan telah ditumbangkan, mereka mencari emas dengan berbagai cara. Lokasi pendulangan telah dikuasai oleh para pencuri liar. Dengan berbagai tawaran merebut hak ulayat. Tak heran jika disana terdapat sejumlah tempat hiburan. Untuk mendapatkan lokasi para pengusaha memberikan berbagai janji muluk. Selain itu para pengusaha juga menawarkan gadis-gadis yang didatangkan. Sebelumnya mereka telah membuka sejumlah tempat hiburan yang dilengkapi pelayan penjajah seks komersial (PKS). Yang sangat merinding tempat-tempat itu disediahkan minuman keras (miras). ” tempat kami mencari makan sudah tidak ada lagi. Kami tersisih dengan berbagai cara pengusaha emas yang berkeliaran disana,”katanya sambil mengenang masa depan, Seraya menjelaskan, sepanjang kali Degewo bagaikan perkotaan. Berbagai warna terpal menjadi atap rumah–rumah darurat.

Biro Perdamaian dan Keadilan GKI Klasis Paniai, Yones Douw membenarkan berbagai persoalan terjadi disana. Hingga saat ini 17 pengusaha emas telah menguasai wilayah itu. Cara kerjanya, para pengusaha membeli lokasi kepada pemilik ulayat dengan nilai uang sangat kecil. Mereka juga menyodorkan berbagai janji kepada warga. Namanya saja warga yang masih lugu itu pasti saja menerima berbagai tawaran –tawaran tersebut. Lagi pula berbahasa indonesia yang tidak tahu menjadi persoalan yang sangat besar. Dalam kondisi ketidakpahaman komunikasi itu para pelacur hak ulayat memanfaatkan kandungan emas.

Sejak tahun 2001 hingga kini 2008 telah ditemukan berbagai persoalan. Tindakan-tindakan kemanusian pun sudah terlihat sejak lama. Perselisihan antara pemilik dengan pendulang non Papua selalu menghiasi derap langkah diwilayah Degewo. Warga yang tidak tahu menahu tentang perkembangan itu hanya menahan perasan atas bergulirnya kekayaan alam. Hampir setiap hari para pengusaha membawa pergi 5-10 ton gram emas.

Berbagai cara untuk mendapatkannya. Baik melalui mencari emas dilokasi yang mereka beli juga mereka telah membuka kios-kios untuk warga datang menukar dengan emas. Semisal sebungkus garam makan tukar dengan satu (1) gram emas. Apalagi barang lain (sembako) harganya mahal” tutur Aktivis kemanusian itu kepada NURANI.

Yones mengatakan, Untuk memperlancar semua proses pendulang para pengusaha telah mengkontrak armada Helikopter yang didatangkan Batam. Kontrakan menjadi salah seorang pengusaha terkemuka. Penerbangan Helikopter dilakukan setiap hari. ” sejak akhir tahun 2007 wilayah pendulangan oleh para pengusaha telah masuk didekat perkotaan sekitar jalur jalan Trans Papua tepatnya KM 171 Nabire,”ungkapnya.

Akibat kegiatan pendulangan emas diwilayah Degewo berdampak pada beberapa aspek kehidupan kemanusian. Ancaman tersebut terutama dialami oleh penduduk asli. Selain hak ulayat sebagai tuan tanah atau pemilik juga pengaruh negatif (buruk) telah mengancam seluruh sendi kehidupan. Warga yang sebelumnya lugu bebas dari pengaruh kini dunia baru menyentuh dan mencoreng kemurnian hidupnya. Alam sebagai tempat perlindungan dan menghidupkan kehidupan mereka telah musnah karena perlakuan manusia yang tidak bertangungjawab.

Mencermati kondisi yang memperihatinkan itu sejumlah kali warga telah menyampaikan kepada pemerintah agar mendapatkan perlindungan terutama dalam pengakuan hak ulayat agar mendapatkan legalitas. ” Wilayah pendulangan terkesan statusnya belum dan terjepit diantara kabupaten Nabire dan kabupaten Paniai. Pemerintah kedua kabupaten ini terlihat sedang membiarkan dan persoalanpun terus bergulir yang berimbas pada meregutnya nyawa manusia pemilik ulayat,”tandasnya.

Terdata sekitar 50 orang telah korban akibat perselisihan, baik korban akibat memperebut kembali hak ulayat. Keterlibatan oknum-oknum ABRI baik TNI dan juga Polri. Mereka datang kesana membeking para pengusaha ternama guna mengamankan kekayaan emas. ” Kami pergi kesana untuk mengamankan atas permintaan pengusaha,”ujar seorang anggota TNI dalam sebuah perbincangan.

Ibu Selly Sanadi, seorang pendulang yang sudah lama berada di sana bersama dengan seornag pengusaha. Mereka beekerja secara kelompok. Namun setelah lokasi tersebut dijual kepada pengusaha lain ibu Selly bersama rekan-rekan lain agak susah untuk mendapatkan tempat bekerja.

Untuk mempertahankan kehidupannya ibu Selly pun tidak mengalah tetapi terus mempertahankan lokasi tersebut sebagai pengelolah. Apa lah daya ketika pengusaha emas tersebut mendatang 4 anggota Polri dari Nabire untuk mengusir meraka dari lokasi tersebut. Sebagai seorang wanita tidak berdaya melawan tangan-tangan besi itu. Algojo-algojo itupun mengusir mereka keluar dari lokasi. Berbagai ancaman, bahkan mereka ditodong dengan senjata.

Tanggal 28 Pebruari lalu ibu Selly mengadu persoalan tersebut kepada pihak aparat keamanan. Bahkan Aliansi Masyarakat Pesisir pun ikut mempertanyakan persoalan itu kepada aparat polisi.

Petrus Sanadi Sekretaris Aliansi Masyarakat Pesisir memfasilitasi mempertemukan antara pengusaha dan anggota polisi yang mengancam warga tersebut. ” 4 anggota yang mengancam korban ibu Selly akan diproses secara hukum, BAP nya sudah diserahkan kepada pihak penyidik untuk diproses lebih lanjut,” kata Kapolres Nabire seraya mengatakan, namun sekarang perlu ada koordinasi dengan pihak Polres Paniai, sebab tempat pendulangan adalah kewenangan hukum polres Paniai.

Terkait persoalan itu Kamis pekan Lalu, Kapolres Paniai bertemu dengan keluarga korban. Kapolres Nabire Rinto Djatmono, S.Ik yang sempat dikonfirmasikan terkait persoalan pendulangan mengatakan, ancaman terhadap ibu Selly Sanadi, sesuai laporannya pihak Polres Nabire sedang diproses. Sebab persoalan menyangkut ancaman itu merupakan pelanggaran KUHP. Maka bersama Polres Paniai dan Nabire akan memproses persoalan tersebut.

Mengapa harus libatkan Polres Paniai kata Rinto karena persoalan itu terjadi diwilayah hukum Polres Paniai. ”Siapa bersalah harus ditindak tegas. Polisi bertugas untuk melindungi dan mengayomi rakyat” ungkapnya (frans