Tampilkan postingan dengan label Laporan Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laporan Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 April 2008

Perempuan di Timika tertinggi HIV/AIDS



Dari jumlah kasus HIV/Aids di Kabupaten Mimika per 12 Desember 2007 yang menunjukan angka fantastic 1.176 kasus menurut data Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) Kabupaten Mimika, perempuan masih unggul dengan jumlah 543 kasus perempuan dengan HIV dan 54 perempuan dengan kasus Aids, totalnya adalah terdapat 572 kasus perempuan di mimika dengan HIV/Aids.

Jika dibandingkan dengan jumlah kasus pada laki-laki yang berada dengan jumlah 505 kasus laki-laki dengan HIV dan 64 kasus laki -laki dengan Aids dan komulatif untuk kasus laki-laki dengan HIV/Aids adalah 572 kasus. Angka yang bukan main-main lagi. Dari jumlah tersebut, maka kasus yang terinfeksi menurut factor resiko tertinggi melalui heteroseks dengan jumlah 1085 kasus,tertular melalui homoseks dengan angka 1 kasus, 23 kasus tertular melalui neonatal, 4 kasus tertular melalui Paparan, 1 kasus melalui transfuse darah, dan 62 kasus tidak diketahui penyebab tertularnya. Jika dilihat menurut golongan umur, maka usia produktif justru lebih banyak yang terinfeksi HIV/Aids. Dengan angka 476 kasus pada usia produktif yang berkisar antara umur 25 tahun sampai 34 tahun.
Artinya umur produktif yang sangat diharapkan dapat berbuat banyak menjadi sirna karena sudah terinfeksi penyakit mematikan ini. Mimika sebagai daerah perusahaan yang terdiri dari kemajemukan budaya dan berasal dari berbagai suku dan ras sangat mempengaruhi lajunya tingkat penyebaran kasus HIV/ Aids di dalam rumah tangga. Banyaknya migrasi kelas pekerja yang datang mengaduh nasib di tanah Papua ini merupakan factor pendorong kecepatan tinggi lajunya virus ini kepada rumah para ibu tangga dari kelas pekerja di Kabupaten Mimika ini. Betapa tidak angka 253 kasus bagi kaum ibu rumah tangga ini menjawab tesis kita tentang tingginya penderita HIV/Aids pada tingkatan ibu rumah tangga di negeri dolar ini.
Lajunya perkembangan virus ini seperti dengan kecepatan tinggi mobil melalui jalan tol jagorawi, tidak ada yang bisa menahannya selain mengantisipasinya. Renol anggota KPAD kabupaten Mimika memperlihatkan perkembangan virus ini berdasarkan tahun selalu meningkat. Misalnya, kasus pada tahun 1996 menunjukan angka 4 kasus dan sepeluh tahun kemudian 2007, menunjukan angka fantastic 1.176 kasus.

Lebih jauh Renol mengatakan bahwa’ mengingat peningkatan kasus yang sangat pesat, maka akses layanan Care, Support and Treatment ( CST) atau dalam bahasa Indonesia disebut, Perawatan Dukungan dan Pengobatan ( PDP) bagi masyarakat perlu dibuka seluas-luasnya. Itu berarti jumlah tenaga manager kasus terlatih di Timika sebanyak 3 orang masih jauh dari cukup.
Sekarang ini di Timika sudah tersedia tiga layanan VCT sebagai pintu masuk untuk program PDP, yakni di PKM Timika, BKTIA dan RSMM. Masing-masing layanan tersebut baru memiliki 1 tenaga manager kasus terlatih. Oleh karena itu perlu dilakukan perekrutan dan pelatihan bagi tenaga manager kasus baru untuk melakukan pendampingan dan membangun jaringan untuk mendukung ODHA.” tegasnya.
Propersi infeksi HIV/Aids terhadap jumlah penduduk Mimika sampai Maret 2007 sebesar 0,08 persen dan infeksi HIV/Aids dengan Ko infeksi TBC sebanyak 84 kasus juga sebanyak 81 kasus telah terjadi kematian akibat HIV/Aids di negeri Dolar ini.
(John Krist Pakage/timika)

Rumah Sakit Freeport Minim Tenaga Kerja Papua


Kemajuan suatu rumah sakit tergantung kepada sumber daya. Jika SDM memadai maka kinerja sebuah rumah sakit akan maju serta akan menekan penderitaan masyarakat (sakit), Ungkap Sekertaris Eksekutip Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro ( LPMAK) John Nakiaya beberapa waktu lalu kepada tabloid ini ketika ditanya tentang pengembangan dan kemajuan pengelolahan RSMM.

Lebih jauh misalnya Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) sudah mulai menunjukan kemajuan dengan terlaksananya program pelayanan medis umum dan spesialis kepada masyarakat antara lain : bedah, perawatan anak, persalinan, penyakit dalam, pemeriksaan dan operasi mata, patologi klinik dan anastesi. Terlaksananya program HAART (Highly Active Antitroviral Treatment) bagi pasien HIV/AIDS.

Selain itu penemuan obat malaria terbaru, yakni Artekin/Artesunate, sebagai hasil penelitian bekerjasama dengan Menzies School of Australia dan BALITBANGKES (Badan Penelitian Pengembangan Kesehatan) Departemen Kesehatan RI. Kemajuan lain terlihat ketika RSMM mengontrak Konsultan PERDHAKI/HCM Excellence untuk menyusun sebuah konsep business plan RSMM. Telah dilaksanakan pengembangan manajemen rumah sakit antara lain : Penguatan komite medis dan asuhan keperawatan yang berkelanjutan serta persiapan akreditasi rumah sakit serta memperbaiki implementasi sistem informasi kesehatan.

Laporan keuangan dan statistik rumah sakit sudah berjalan dengan baik, tepat waktu menerapkan penggunaan kartu identitas berobat bagi pasien tujuh suku(Amungme, Kamoro, Damal, Mee, Moni, Nduga dan Dani)’ akunya.
Kemajuan dalam proses pengembangan rumah sakit lambat laun semakin dirasakan oleh para petugas dilapangan.

Hal ini telah dicapai karena Peningkatan sumber daya manusia sedang dalam pengembangan melalui berbagai kegiatan pembinaan maupun program studi bagi karyawan. Kemajuan dan terpopulernya nama Rumah Sakit Mitra Masyarakat ini juga disebabkan karena ada sumbangsi besar dan positif dari Ring Papua pada unit RSMM.
Mengapa tidak, ternyata Ring Papua cukup berperan dan berhasil terutama dalam menyelesaikan sejumlah persoalan antara pihak menejemen dengan para pekerja yang tergabung dalam wadah Ring Papua. Keberhasilan Ring Papua terutama karena bentuk pendekatan dari para pengurus ring Papua terhadap anggota mereka yang dianggap bermasalah. Terutama masalah disiplin kerja yang kurang.Dalam penyelesaian persoalan Ring Papua bertindak sebagai mediator antara pihak menejemen dengan karyawan RSMM.

“Sebagai fasilitator kami melakukan bentuk pendekatan dari hati kehati dan pendekatan langsung kepada anggota, kami mengunjungi bahkan kadang kami menjemput teman kami yang bermasalah dirumahnya untuk menanyakan sebab musebabnya permasalahan, setelah kami mengetahui kami mencari solusi yang terbaik, jika persoalan tersebut melibatkan antara pihak menejemen dan karyawan, maka kami berusaha mempertemukan kedua belah pihak agar dicari solusi bersama’ tegas ketua Ring Papua Maria Florida Kotorok.
Bentuk pendekatan dalam proses penyelesaian masalah ini dilakukan sesuai dengan motto Ring Papua. ‘ kami berpegang pada motto kami yaitu Saling merangkul untuk Maju, itu menjadi pedoman kami sejak berdirinya Ring Papua ini’ tegas Maria. Masih menurut Mey begitu nama yang disapanya, sejak tahun 2002 Ring Papua telah kami bentuk, pembentukan wadah ini berawal dari ide Direktur Yayasan Caritas Thomas Murdjito (Kini telah pensiun. Setelah dibentuk sempat ring Papua tidak berjalan karena kesibukan badan pengurus dan akibatnya terjadi kevakuman pengorganisasian selama 2 tahun. Dari berjalannya waktu dan karena wadah ini dianggap penting dalam pengembangan rumah sakit terutama karena sering mengalami sejumlah persoalan antara karyawan dengan menejemen maka diadakan pemilihan dewan kepengurusan baru. Akhirnya Januari 2004 terbentuk kepengurusan baru. Sejak dibentuk hingga kini sudah berusia 2 tahun program kerja satu demi satu mulai teraplikasi. Sebagai mediator ring Papua menjadi corong dari karyawan orang Papua di RSMM selalu menghendaki adanya pemberdayaan dan penambahan tenaga kerja Papua sesuai kebutuhan, selain itu wadah ini juga berusaha mengimbangi agar tidah hanya menuntut hak-hak bagi karyawan lokal namun juga menjujunjung tinggi serta menjalankan kewajiban karyawan dengan mematuhi aturan yang berlaku.
Lebih dari itu ring Papua memahami bahwa pihak menejemen adalah ‘mitra kerja’ untuk pengembangan dan pelayanan kepada masyarakat yang berobat. “Kepuasan para pelanggang (pasien) adalah harapan kami, sehingga kami berupaya semampu kami untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi antara pihak manajemen dan karyawan agar persoalan ini tidak menjadi penghambat pelayanan kepada masyarakat’ tegas Mey. Lebih lanjut ‘ awalnya wadah ini belum diakui oleh pihak manajemen dan kami sering kali dianggap sebagai wadah ilegal dari pihak manajemen sehingga dianggap tidak perlu ada di lingkungan RSMM bahkan dianggap wadah yang tidak penting dalam proses pengembangan demi pelayanan, padahal kami justru berada untuk berperan ganda dalam menyelesaikan persoalan yang terjadi dan sekaligus ini kami membantu tugas dari pihak menejemen. Kami sangat paham akan pentingnya pengembangan RSMM kedepan namun kami hanya dibutuhkan pihak manajemen ketika ada persoalan dari karyawan orang Papua, bahkan kami kadang dijadikan semacam tameng, padahal kami tetap propesional dan tetap royal kepada pihak menejemen sesuai dengan aturan yang berlaku, kami menghendaki agar pelayanan kami memuaskan semua orang, itu kewajiban dan untuk itu kami ada dan bekerja namun ketika hak-hak kami tidak lagi diperhatikan maka karyawan yang bernaung dibawah wadah Ring Papua RSMM berharap agar pengurus memperhatikannya dan melaporkan hal tersebut kepada pihak menejemen. Perjuangan kami kini sudah ada hasil yang bisa kami rasakan, kini anggota ring Papua sudah ada yang menjadi kepala bagian, selain itu hasil lain misalnya sudah ada yang melanjutkan studi baik di Papua maupun diluar papua dibawah tanggungan RSMM dan LPMAK, ini kami bangga, selain itu kedepan ring Papua berharap agar dalam proses perekrutan karyawan wadah ini dilibatkan. Kami sudah mengusulkan kepada pihak manajemen agar perekrutan pada tingkatan non skil harus orang Papua.
Lain halnya yang berkaitan dengan skil namun tetap ada porsi untuk orang Papua. Ring Papua memiliki visi sebagai mitra kerja antara karyawan dengan manajemen dalam mengembangkan sumber daya manusia Papua secara bertanggungjawab, berkesinambungan dan bermartabat. Misi wadah ini adalah meningkatkan ketrampilan karyawan Papua, menjadi media komunikasi antara karyawan dengan menajemen RSMM, meningkatkan kesejahteraan karyawan Papua’ ungkap Kotorok. Struktur wadah ini terdiri dari 2 orang penasehat, 3 orang pengurus inti (ketua, sekertaris dan bendahara), dilengkapi dengan 2 orang pembina dan juga bidang kerohanian dan usaha dana. Ternyata wadah ini juga memiliki kriteria bagi anggotanya, kriteria menjadi anggota wadah ini adalah pertama ia harus orang papua asli, kedua campuran darah dan ketiga, bagi orang non papua yang lahir besar di Papua dan diakui oleh masyarakat setempat sebagai orang papua. Secara otodidak wadah ini juga mengadakan sejumlah kegiatan sosial seperti memberikan bantuan bagi kaum lemah terutama dalam memberikan sumbangan pakaian yang layak pakai kepada sesama. “ kami memberikan bantuan sosial ini atas inisiatif kami sebagai mahluk sosial, kami kumpulkan pakaian layak pakai dari seluruh anggota Ring Papua dan kami salurkan kepada mereka yang membutuhkannya’ ungkap perempuan yang masih single ini. Dalam perkembangannya RSMM yang pada awalnya hanya didukung oleh 16 orang tenaga dokter, terdiri dari dokter umum 12 orang, dokter gigi 1 orang dan dokter spesilis 3 orang. Sedangkan tenaga medis berjumlah 184 orang terdiri dari para medis perawatan 132 orang, bidan 19 orang, paramedis non perawatan 33 orang. Selain itu dipekerjakan tenaga non medis berjumlah 109 orang terdiri dari sarjana 13 orang, lain-lain sebanyak 96 orang.
Namun telah terjadi kemajuan secara pasti dari waktu kewaktu. Dari Data yang diperoleh menunjukan bahwa permaret 2006 tidak ada tenaga medis orang papua, sedangkan non papua terdapat 16 orang, untuk tenaga para medis karyawan 24 orang papua, sedangkan 122 orang non papua dan jumlah 146, untuk tenaga penunjang medis terdapat 2 orang Papua asli dan 34 orang non papua, dan tenaga non medis 39 orang asli Papua dan terdapat 70 orang non Papua, dengan demikian jumlah karyawan orang asli Papua 65 orang dari 307 karyawan RSMM. Walaupun secara kwantitas karyawan orang Papua masih kurang, namun Ketua Ring Papua RSMM mengatakan bahwa tak dapat disangkal bahwa keberadaan PT Freeport Indonesia (PTFI) telah membantu mempercepat proses pembangunan masyarakat pribumi di Kabupaten Mimika pada khususnya dan masyarakat lainnya di Provinsi Papua pada umumnya. Masyarakat telah menikmati pengobatan gratis di RSMM yang dikelola oleh YCT (Yayasan Caritas Timika). Fasilitas pendukung di RSMM terdiri dari Unit Gawat Darurat (UGD), bangsal bedah, bangsal anak, bangsal penyakit dalam, bangsal kebidanan, ruang rawat insentif dan neonatal ICU.
Kedepan Ring Papua tetap optimis dan eksis dalam perjuangan membantu manajemen RSMM sebagai mediator antara karyawan Papua dan pihak menejemen untuk itu berharap agar Ring Papua dimanfaatkan (didukung, diakui dan dilibatkan) oleh pihak menejemen dalam pengembangan RSMM kedepan. Dalam waktu yang tidak terlalu lama akan diadakan pemilihan badan pengurus Ring Papua RSMM yang baru dan kedepan berharap kepada pihak menejemen agar ada dukungan dana operasional Ring Papua dan Sekertariat tetap. Semoga wadah yang bermasa bakti 2 tahun ini tetap eksis dalam pengembangn dan karya pelayanannya.
(John Kristian Pakage/timika)

Jumat, 18 April 2008

RSUD Tipe C Yang Mengunakan


Pilar kesehatan, bagian dari kehidupan tak bisa disangkal. Pasalnya jika manusia mengalami gangguan kesehatan, akan berimbas pada kegiatan manusia setiap hari. Kesehatan juga bagian dari kebutuhan maka dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu was-was dari ancaman penyakit. Untuk itu pemerintah selalu memberikan perhatian guna memperbaiki kesehatan bagi rakyatnya, Karena masyarakat sebagai subyek pembangunan perlu mendapatkan pelayanan kesehatan yang prima.


Seiring dengan hal itu, bagi pemerintah kabupaten Nabire pilar kesehatan merupakan salah satu pilar program dari empat pilar yang lain. Berbagai upaya telah dilakukan semasa pemerintahan Drs. A.P. Youw, salah satu diantaranya peningkatan rumah sakit tipe D menjadi tipe C pada beberapa tahun lalu.


pemerintah Kabupaten Nabire telah berupaya meningkatkan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dari Tipe D menjadi Tife C, sejak tahun 2003.

Gedung RSUD yang berdiri tegak, di Siriwini Kelurahan Siriwini, distrik Nabire itu runtuh akibat gempa tahun 2004. walau demikian pemerintah telah merehablitasi kembali gedung tersebut dan kini terlihat gedung sangat mewah dibanding gedung yanglain. Hanya saja pelayanan dan kebutuhan mendasar rumah sakit tersebut masih dikeluhkan oleh warga (pasien) yang selalu mengunjunginya.


“Selama rawat nginap di rumah sakit ini saya tidak mendapatkan pelayanan sebagaimana biasanya di rumah sakit tipe C. bahkan bantal kasur juga air mandi pun kami bawah rumah sendiri,”papar ibu Melani.

Ibu Melani juga mengutarakan, kebutuhan dasar yang seharus dipenuhi hingga ini terlihat belum maksimal. Hal itu dirinya telah merasakan keterbatasan-keterbatasan, misalnya kata Ibu Melani, ketika masuk nginap rawat dua malam pertama disuruh nginap di UGD. Sebenarnya kalau sudah masuk nginap di RSUD bukan lagi nginap di UGD akan tetapi harus nginap diruang nginap perawatan.

Senada juga dilontar, bapa Moses beberpa bulan lalu, ketika anak sulungnya rawat nginap disana. Mendapatkan pelayanan yang tidak maksimal. Ketika itu pasien tidak mendapatkan tempat tidur. Karena keterbatasannya, pasien dikembalikan ke UGD untuk menginap semalam. Keesokan harinya antar ke rung nginap. Yang paling menyedihkan menurut bapak itu adalah soal keterbatasan air mandi. Untuk mendapatkan air mandi dan air minum keluarga selalu antar dari rumah mereka.

“Bak air dikamar mandi sudah rusak jadi kami menada dengan ember yang kami bawa dari rumah sendiri,”ungkapnya.

Keluhan akan fasilitas mendasar di rumah sakit tidak hanya dirasakan oleh pasien yang nginp diruang rawat kelas ekonomi, akan tetapi juga dirasakan oleh pasien yang nginap rawat di kelas VIP. Pelayanannya terkesan sama dengan kelas ekonomi. Bahkan kebutuhan-kebutuhan yang sangat urgen tidak disediahkan. Seperti yang dialami oleh Esau Kamiroki, adalah pasien yang masuk dirung VIP Sabtu pekan kemarin. Sakitnya parah. Dari petugas medis disuruh mencari oksigen diluar karena ketersediaan oksigen rusak. “ Kami mencari oksigen di Bengdam, Batalyon, ternyata kami dapat di Batalyon, dan beli disana,”tutur Alek Kamiroki Kakak kandung Pasien.

Alex Kamiroki yang juga sekretaris Partai Patriot ini mengatakan, pemerintah selalu memberikan dana yang besar. Sudah diketahui bersama bahwa pemerintah Nabire selalu menganggar dana. Tahun ini sekitra 10 miliyar telah diberikan kepada RSUD. Pihak RSUD terkesan salah memprioritas program.

“Kebutuhan mendasar seperti batal, kasur, tempat buang air besar, tempat buang air kecil, tempat buang air ludah, air mandi dan sarana lain mendasar sebaiknya diprioritaskan,” ujar Kamiroki.

Jika RSUD telah mengalami peningkatan tipe, sebaiknya pihak RSUD harus memiliki management yang skala prioritas yang tentunya berangkat dari kebtutuhan mendasar pasien. RSUD tidak sekedar untuk berobat akan tetapi harus menjadi tempat nyaman agar pasien bisa beta tinggal disana sambil menunguh penyembuhan.

Dia juga keluhkan atas ketersediaan sumber daya manusia. Medis yang selalu melayani sana terkesan belum maksimal. Kekwatiran yang menghamtui perasaan pasien dimana beberapa kali terjadi peristiwa akibat penyalagunaan obat kepada pasien. Memang benar hampir setiap malam pasien dijaga oleh siswa praktek baik dari SPK maupun dari AKPER Nabire. Banyak keluhan yang selalu dilontarkan warga Nabire terhadap pelayanan rumah sakit ini. Manusia sebagai subyek pembangunan dan tulang pungung maju mundurnya pembangunan di Nabire, maka diharapkan kepada pemerintah dan pihak RSUD agar membenahi semua kekurangan kebutuhan mendasar dan minimnya tenaga medis. “ Manusia perlu diselamatkan, karena maju mundurnya pembangunan ada ditangan warga,”terangnya.

Hal itu dibenarkan kepala ruangan Wanita Silas Elias Nimbogre, A.Md Per. Dirinya mengakui keterbatasan fasilitas yang dikeluhkan oleh masyarakat itu. Hingga saat ini fasilitas mendasar bagi pasien belum mengalami peningkatan masih mengunakan sarana lama sewaktu tipe D. Jika status rumah sakit mengalami peningkatan fasilitas pun harus sesuai dengan kebutuhan sehari-hari demi kepentingan pasien.

“ Sampai saat ini tempat tidur untuk pasien setiap ruangan hanya terdapat 9 tempat tidur. Selayaknya harus 15-20 tempat tidur. Hal itu penting karena ketika terjadi penyakit tidak bisa menampung pasien dalam jumlah yang besar,” kata Silas.

Dia mengatakan, Kekurangan mendasar bagi rumah sakit hinggat ini yang belum terpenuhi, misalnya bak air besar, bak air kecil, tempa buang ludah, sprey, kasur bantal, dan air bersih. Adanya sinyalemen dari masyarakat terkait ruang nginap VIP dan kelas ekonomi, mesti dibedakan, sebab kelas VIP milik pemerintah yang diberi kepercayaan kepada pihak RSUD untuk mengelolah, sedangkan kelas ekonomi adalah milik RSUD yang dikelolah khusus untuk kepentingan dan pelayanan masyarakat. “ Sehingga dalam ketersediaanpun bedah. Semua fasilitas di ruang VIP disiapkan oleh pemerintah, sedangkan untuk kelas ekonomi disiapkan pihak RSUD,”tandasnya.

Awalnya Pelaksana Tugas Harian RSUD Nabire, dr. Agustin ketika dikonfirmasikan tidak memberikan konmentar sebab sedang mengantarkan anak berobat di Jakarta. Namun berhasil juga mendapatkan komentar setelah dr Agustin sepulang dari Jakarta senin Pagi bisa mengakui bahwa sejumlah persoalan yang sedang dialami oleh RSUD Nabire benar.

Ketersediaan kebutuhan dasar pada umumnya terpenuhi. Hanya saja beberapa aspek yang belum dibenahi. “Makan, minum bagi pasien selalu tersediah. Sedangkan seperti yang dikeluhkan masyarakat misalnya sprey, kasur, bantal, tempat buang air ludah, tempat air besak (BAB) dan tempat buang air kecil (BAK), selalu tersediah hanya saja barang-barang tersebut selalu dibawah pulang oleh pasien setelah selesai rawat nginap “ tutur dr Agustin.

Kebutuhan bagi pasien selalu bertambah, bahkan kata dr Agustin, setiap tahun kebutuhan –kebutuhan yang tidak bisa dilupakan pihak rumah sakit selalu menaruh perhatian. Hanya saja masalah kekurangan tempat tidur itu benar. Ruang nginap setiap ruangan perawatan sangat terbatas karena itu pengaruh pada penampungan pasien. Pihak RSUD sedang memprogramkan penambahan beberapa gedung. “Khusus untuk ruang nginap sangatlah perlu. Sebab jika wabah menyerang tiba-tiba animo pasien selalu melonjak,”pintahnya.

Untuk meningkatkan semua pelayanan baik tenaga media (tim medis), juga kepada pasien, RSUD selalu mendapatkan perhatian dari pemerintah, pemerintah Provinsi, pemerintah kabupaten. Tahun ini pemerintah telah menganggarkan 12 milyar. Dengan dana itu RSUD akan berupaya maksimal untuk mengunakan kepentingan perbaikan dan pembenahan kekurangan-kekurangannya